Singapura, dengan komitmennya terhadap inovasi dan pengembangan kota pintar, menjadi salah satu negara terdepan dalam pengujian taksi robotik tanpa pengemudi (Otonomi Level 4). Uji coba ini dilakukan di kawasan khusus yang terkontrol, seperti One-North, dengan tujuan untuk mengintegrasikan layanan mobilitas otonom ke dalam sistem transportasi publik di masa depan.
Kendaraan ini dilengkapi dengan sensor canggih seperti LiDAR, radar, kamera, dan ultrasonics yang memungkinkan mereka untuk mengidentifikasi objek, pejalan kaki, dan kondisi lalu lintas dengan akurasi tinggi. Algoritma AI yang kompleks memproses data ini secara real-time untuk membuat keputusan mengemudi yang aman dan efisien.
Uji coba di kawasan khusus memungkinkan para insinyur untuk mengumpulkan data berharga tentang kinerja kendaraan dalam berbagai skenario, mulai dari kondisi cuaca buruk hingga interaksi dengan pejalan kaki dan pengendara sepeda yang tidak terduga. Hal ini penting untuk menyempurnakan teknologi dan memastikan keamanan maksimal sebelum penyebaran yang lebih luas.
Pemerintah Singapura melihat taksi robotik sebagai solusi untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja pengemudi, mengurangi kemacetan, dan mengoptimalkan penggunaan lahan di kota yang padat. Ini juga merupakan bagian dari visi yang lebih besar untuk menciptakan ekosistem transportasi yang cerdas dan terintegrasi.
Meskipun ada tantangan terkait regulasi, penerimaan publik, dan biaya infrastruktur, keberhasilan uji coba ini menempatkan Singapura di garis depan revolusi transportasi otonom. Ini akan membentuk masa depan mobilitas perkotaan di Asia dan menjadi model bagi negara-negara lain yang ingin mengadopsi teknologi serupa.

