Pemerintah kota di Asia semakin memanfaatkan Big Data dan analitik canggih untuk mengembangkan inisiatif Smart City. Big Data, yang dikumpulkan dari sensor IoT, kamera lalu lintas, dan aplikasi seluler, digunakan untuk meningkatkan efisiensi layanan publik, mulai dari manajemen transportasi hingga respons bencana.
Pemanfaatan data besar memungkinkan perencanaan kota yang prediktif. Contohnya, menganalisis pola lalu lintas real-time untuk mengoptimalkan waktu lampu lalu lintas atau memprediksi kebutuhan layanan publik di lingkungan tertentu. Hal ini membantu mengatasi masalah mendesak seperti kemacetan dan polusi udara.
Smart City berbasis data ini menjanjikan peningkatan kualitas hidup warga melalui layanan yang lebih personalisasi dan responsif. Kota-kota seperti Singapura dan Seoul memimpin dalam implementasi teknologi ini, menetapkan standar regional.
Namun, pengumpulan Big Data dalam skala besar menimbulkan kekhawatiran serius tentang privasi data dan pengawasan massal. Pemerintah harus menyeimbangkan efisiensi operasional dengan perlindungan data pribadi warganya, memastikan transparansi dan akuntabilitas.
Pemerintah Asia memanfaatkan Big Data (dari sensor IoT, kamera) untuk inisiatif Smart City, meningkatkan efisiensi manajemen transportasi dan layanan publik. Kekhawatiran privasi data menjadi tantangan utama.

